Indonesia Fashion Muslim & Hijab Brand | Indonesia Hijab Store Berita Kebaikan yang didapati saat resign sebelum dapat kerjaan pengganti Indonesia Hijab Store & Worldwide Shipping
 
 
(+62) 87899740313
Immediately contact us to place an order / ask product, Distributor Partnership, Agent or Reseller Dropship, by calling / text / wa number above to get quick response

Cart

Kebaikan yang didapati saat resign sebelum dapat kerjaan pengganti

Kebaikan yang didapati saat resign sebelum dapat kerjaan pengganti

07 Jul 2018

“Hey, katanya kamu resign? Emang mau ke mana habis ini?”
“Iya nih. Hehehe belum tahu sih, belum mulai apply-apply lagi.
“Seriusan? Terus kenapa buru-buru resign kalau belum dapat pengganti? Nggak mendingan nunggu dulu aja sambil nyari-nyari?”

Bagi penganut paham “yang pasti-pasti saja”, mungkin penggalan percakapan di atas sangat asing dan tidak pernah dialami. Namun bagi yang mengikuti prinsip “yang penting resign dulu, lain-lain dipikir nanti”, tentunya situasi tersebut sangat familier. Kebetulan saya termasuk golongan yang kedua. Melihat orang terlongo heran saat saya bilang belum punya pekerjaan lain sudah sering saya alami. Mungkin orang akan se-heran itu juga bila tahu saya sering bertanya-tanya apakah konsep jodoh itu memang benar-benar ada.

Banyak tanggapan yang kamu terima saat akhirnya kamu memutuskan untuk resign, meski belum menemukan pekerjaan pengganti. Ada yang pura-pura takjub dan mengagumi keberanian (atau kenekatan?) kamu. Ada pula yang menganggap saya gegabah, pongah, bodoh sekaligus mudah menyerah. Tak jarang mereka langsung menyelipkan nasihat, bahwa jenuh dan lelah di pekerjaan itu hal biasa. Tak seharusnya sampai membuat kamu nekat keluar tanpa rencana yang matang.

Resign tanpa pekerjaan pengganti memang penuh risiko. Jujur saja, predikat pengangguran itu memang menyeramkan. Apalagi kamu tidak tahu kapan kamu akan kembali mendapat pekerjaan. Tapi beberapa kali resign sebelum punya pengganti, membuat kamu paham beberapa hal ini.

Setiap keputusan sudah mengalami pertimbangan yang panjang. Meski diragukan, kamu merasa perlu mengapresiasi keputusan ini

Hanya kamu yang tahu kegalauan apa yang diri ini alami setiap kali pulang ke rumah dengan tubuh lelah. Hanya kamu yang tahu bagaimana akhir pekan menjadi penghiburan yang tak terhitung indahnya setelah lima hari mengalami tekanan. Dan hanya kamu yang tahu, berapa lama kamu bertanya pada diri sendiri: benarkah keputusan yang kamu ambil ini?

Biar saja, orang bilang saya sembrono, gegabah, dan pongah. Satu yang kamu tahu, keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan atupun pergulatan atas segala kebimbangan. Karena itu, kamu merasa perlu untuk mengapresiasi diri sendiri. Karena untuk mengantarkan surat resign ke meja atasan, butuh keberanian besar.

Kamu memang harus berpikir “Mau apa sekarang?” setiap pagi. Tapi kamu juga jadi lebih fokus untuk menentukan apa yang kamu ingini

Lalu apakah hidupmu seketika damai-damai saja setelah menjalani farewell party? Jelas tidak. Kamu masih harus menjawab pertanyaan maha sulit “what’s next?”. Setelah resign, saya tetap harus segera menentukan langkah selanjutnya. Karena bagaimana pun, menjadi pengangguran terlalu lama bukan tujuan hidupmu.

Namun sekarang, dengan ketiadaan beban deadline pekerjaan dan telepon-telepon atasan yang menagih pekerjaan, kamu jadi lebih fokus untuk menentukan mau apa setelah ini. Kamu bisa browsing-browsing lowker tanpa sembunyi-sembunyi takut ketahuan. Dan saat panggilan interview tiba, kamu tak perlu mengarang alasan sakit untuk bisa hadir.

Melepaskan diri dari sesuatu butuh jeda untuk menenangkan diri. “istirahat” dulu di rumah membuat kamu bisa berpikir lebih jernih lagi

Apakah kamu pernah menyesali keputusanmu? Terkadang, iya. Terutama saat ajakan teman untuk nongkrong dan ngopi berdatangan sementara dompetmu kian tiris setiap hari. Namun satu hal yang kamu pahami, sembari mencari-cari peluang baru, adalah waktunya bagimu untuk menenangkan diri.

Mungkin menyempatkan diri berlibur ke tempat-tempat seru yang selama ini cuma jadi janji dalam hati. Atau sekadar pulang ke rumah dan mengganti seluruh waktu dengan keluarga yang sudah hilang. Dengan hal-hal sederhana semacam itu, sudah cukup memberimu ruang baru untuk bisa berpikir lebih jernih.

Tak punya penghasilan dari pekerjaan yang terpatok 9-17, saya memaksa diri untuk lebih kreatif lagi. Ah, ternyata kamu bisa juga begini

Tentu kamu adalah sutradari film jika semuanya berjalan sesuai kemauanmu. Tapi memang tidak. Banyak kenyataan yang tak sejalan dengan rencana. Lamaran kerja yang kamu ajukan tak ada kabar. Prospek pekerjaan yang ditawarkan teman ternyata tidak bisa diharapkan. Kamu terjebak dalam hidup pengangguran, bangun pagi tanpa rencana, dan tentunya tak punya banyak uang untuk bersenang-senang.

Namun kondisi terjepit ini ternyata bisa memaksamu melakukan banyak hal yang kamu pikir tak bisa lakukan sebelumnya. Kamu bisa rajin mencari project freelance untuk menunjang kehidupan. Mengaku tak berbakat berbisnis, ternyata kamu bisa juga merintis online shop dengan mengandalkan platform e-commerce. Dan dengan keuangan yang kian tiris itu, kamu bisa berhemat dengan sangat ketat. Padahal sebelumnya menghemat 10 ribu sehari pun terasa sangat berat. Ya bagaimana? Horor juga membayangkan tabungan habis sebelum pekerjan baru datang.

Melepaskan apa yang sudah lama menjadi tumpuan memang tidak pernah mudah. Rasa takut salah mengambil keputusan, ataupun penyesalan saat keputusan sudah didapatkan, selalu saja ada. Namun setidaknya kamu mengerti bahwa setiap keputusan selalu ada hikmahnya, termasuk berhenti bekerja. Meski orang lain menilai betapa gegabahnya kamu, hanya kamu yang benar-benar tahu apa yang terjadi di sana kan?

Foto ilustrasi: google
Sumber artikel: hipwee

Share